Kisah Sang Pelari


Sorak sorai para penonton di stadion bergemuruh ketika dia menyelesaikan perlombaannya. Dia telah berlari sejauh 5 km dan meraih juara satu. Dia memenangkan medali emas untuk negaranya dan semua orang di dunia menyaksikan kemenangannya. 

Para wartawan berlari ke arahnya dan menanyakan beberapa pertanyaan. "Kami mendengar bahwa Anda memiliki cedera pada kaki kanan Anda, tetapi Anda masih dapat memenangkan perlombaan. Bagaimana Anda bisa melakukan itu? Apakah tidak sakit? "

"Kalian tidak bisa membayangkan betapa sakitnya kaki kanan saya", katanya sambil menunjukkan kaki kanannya. Mereka dapat melihat beberapa bercak darah dari sepatu kanannya.

Para wartawan kemudian melihat satu sama lain. "Lalu bagaimana bisa Anda masih bisa berlari dengan kaki seperti itu? Hebatnya lagi Anda menang! Apa yang membuat Anda untuk tidak pernah menyerah sepanjang lomba?"

Dia menjawab, "Karena ayah saya tidak pernah menyerah pada saya."

Satu hari setelah perlombaan, banyak surat kabar yang menerbitkan cerita hidupnya. Apa yang membuatnya tidak pernah menyerah bahkan ketika dia merasakan kesakitan luar biasa di kaki kanannya selama perlombaan.

Ketika dia masih kecil, tempat di mana dia lahir  berada dalam situasi perang. Banyak orang mencoba lari dari rumah mereka, untuk pindah ke daerah yang aman. Ada banyak ledakan di mana-mana dan orang-orang yang tidak beruntung banyak yang tewas. Pada waktu itu, dia, yang masih berusia lima tahun, sedang bermain dengan teman-temannya di sebuah taman. Teman-temannya sudah melarikan diri tetapi dia tidak bisa mengikuti mereka karena kaki kanannya berdarah, terkena ledakan. Dia menangis sendirian saat masih banyak ledakan dan tembakan senjata berada di mana-mana. Sesaat kemudian, ayahnya lari ke arahnya, mengambil dia dan membawanya berlari dari tempat itu.

"Apakah kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan kakimu?" Ayahnya bertanya dengan raut muka ketakutan ketika melihat kaki kanan anaknya penuh dengan darah.

Dia tidak menjawab karena waktu itu dia tidak bisa berhenti menangis. Dia takut dia akan mati.

"Dengar Nak, ayah tidak akan membiarkan kamu mati ... Jangan takut! Ayah akan membawa kamu ke zona aman. Ayah berjanji, oke?"

Ayahnya tersenyum kepadanya dan tiba-tiba dia merasa lebih baik. Dia tersenyum kembali kepada ayahnya ketika salah satu peluru mengenai pinggang ayahnya. Tetapi ayahnya terus berlari.

"Ayah, kau baik-baik saja?"

"Ayah baik-baik saja, nak! jangan khawatir, kamu tidak akan mati ... ayah janji! kamu tidak akan mati .... "Jawab ayahnya. Dia bisa merasakan nafas ayahnya lebih berat dari sebelumnya. Kemudian ia melihat bahwa baju ayahnya telah berubah menjadi merah. Setelah mendapat tembakan pertama, ayahnya kemudian mendapat dua tembakan lagi di beberapa bagian tubuh.

Akhirnya, dia berhasil dibawa ke zona aman dan ayahnya meninggal karena kehabisan darah. Dia melihat ayahnya tersenyum sebelum meninggalkan dia untuk sisa hidupnya.

"Saya masih hidup karena cinta Ayah saya"

Anda dan saya juga masih “hidup” dan bertumbuh sampai hari ini karena kasih, investasi dan pengorbanan dari orang-orang sebelum kita. Para orang tua, pembina rohani, dan… Yesus Kristus. Akankah kita menyia-nyiakan hidup yang sudah dianugerahkan kepada kita dalam ketidakmaksimalan fungsi serta peran kita di tengah komunitas dimana kita berada? Cara terbaik untuk menghargai setiap kasih, investasi serta pengorbanan Tuhan serta para pribadi pendahulu kita adalah dengan menyalurkan/membagikan apa yang mereka investasikan dalam hidup kita kepada jiwa-jiwa yang membutuhkan di sekitar kita. (jak)