Tampilkan postingan dengan label youth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label youth. Tampilkan semua postingan

Sebuah Momentum untuk Api yang Tak Akan Padam (Liputan Youth Camp: Desciple On Fire)

 
“FIRE!!!”

Ketika mendengar teriakan tersebut dari salah satu panitia, sekitar 40 orang anak muda dengan kompak berdiri lalu menyanyikan sebuah lagu:

“Roh Kudus membakarku,
Menyala layani Tuhan
Menjadi murid Kristus yang sejati
Murid yang radikal
Murid Kristus, bukan iblis”

Itulah lirik “lagu kebangsaan” Youth GBI Kristus Pencipta yang dikumandangkan saat camp pada tanggal 15-17 Mei 2011 di Claket, Pacet. Lirik di atas menggambarkan tujuan dari diadakannya camp ini, yaitu untuk membakar kembali semangat para pelayan Youth dalam melayani Tuhan dan menjadi murid Kristus yang sejati. Tema camp “Desciple on Fire” pun terasa sangat kuat selama tiga hari camp brlangsung. Bagaimana tidak, dari satu sesi ke sesi yang lain, hadirat Tuhan benar-benar kuat melawat peserta, baik lewat pujian maupun Firman Tuhan yang disampaikan. 

Selain sesi Firman Tuhan, camp kali ini juga dilengkapi dengan permainan yang lucu, Jurit “Mendadak Bangun” alias “Jurit Dini Hari”, serta outbond yang seru. Setiap acara yang ada dalam camp ini benar-benar telah dirancang sedemikian rupa agar bisa menyampaikan semangat utama dari camp ini. Instruksi dan peraturan yang dibuat oleh panitia bagi para peserta  tidak ada yang iseng, semua memiliki maksud tertentu.

Setelah permainan mirip tokoh terkenal yang mengundang banyak tawa, acara dilanjutkan dengan sesi pertama dan kedua. Jeffry  Theresna selaku pembicara menyampaikan kebenaran tentang “Haus dan Lapar Akan Tuhan” (God Encounter) serta “Hidup Dalam Komunitas”.  Lewat sesi  pertama, para peserta diperbaharui pola pikirnya mengenai haus dan lapar akan Tuhan, bahwa jika kita haus dan lapar akan Tuhan, maka cara kita untuk mencari Tuhan pasti berbeda. Sesi kedua membawa para peserta untuk berkomitmen kembali pada komsel mereka. Karena komsel merupakan gaya hidup Allah yang harus kita hidupi.


Hari kedua acara dimulai dengan Jurit Dini Hari pada pukul tiga pagi. Para peserta dibangunkan tiba-tiba tanpa pemberitahuan, lalu secara berkelompok (telah ditentukan sebelumnya) menjalani rute-rute yang seru. Pagi menjelang siang, acara dilanjutkan dengan pengajaran yang dibawakan Penatua kita tercinta, Hanna Ongkosoetrisno mengenai “Menjadi Murid Kristus Yang Radikal.”  Sesi ini menyatakan supaya kita sebagai murid Kristus harus “hineni”, siap dan taat meresponi panggilan Tuhan seperti apa yang telah diteladankan oleh Abraham dan Musa ketika mereka dipanggil Tuhan.

Berikutnya acara dilanjutkan dengan outbond yang tak terlupakan. Dibagi menjadi dua grup besar, para peserta dan panitia mengarungi hutan lindung Perhutani untuk mengikuti permainan yang telah disiapkan oleh tim outbond. Medan yang berat dan hujan yang turun tidak menyurutkan semangat peserta untuk menyelesaikan outbond hingga akhir. Dalam outbond, para peserta diajarkan untuk kompak dan saling percaya antar anggota tim. Hari kedua ditutup dengan acara fellowship dan api unggun. Api unggun dilengkapi dengan kesaksian para peserta yang mengalami perubahan dalam camp.


Hari terakhir dimulai dengan saat teduh bersama yang dipimpin oleh rekan kita, Bp. Ferry Wirawan mengenai “Berbuat Baik”. Dua sesi terakhir “Penginjilan” dan “Pemuridan”disampaikan oleh Bp. Donny Tompunu. Sesi tersebut memberikan wawasan kepada para peserta bahwa menginjil dan memuridkan itu sebenarnya sederhana kalau kita mengaplikasikan dengan benar.

Meskipun camp Disciple on Fire telah berakhir, namun api yang telah dikobarkan harus terus dijaga supaya tidak padam, melalui tindakan nyata setiap hari. FIRE!!!!!!(jak)

Liputan Mission Trip Youth, Desa Sawahan & Dusun Bomo – Nganjuk, 22-24 April 2011


Kami berkesempatan melayani di Desa Sawahan, Nganjuk, tepatnya di sebuah jemaat lokal yang dipimpin Bp. Pdt. Obed Kasiyanto. Di sana jemaat yang tertanam sekitar 25 orang, tetapi yang aktif hanya 15 orang. Di sana kami (berlima) beroleh kesempatan melayani ibadah Jumat Agung dalam pujian penyembahan serta khotbah Firman Tuhan. Kami juga melakukan doa keliling untuk mengikat roh jahat dan melepaskan damai sejahtera Tuhan bagi Sawahan. Kami juga menyediakan waktu untuk berkunjung ke rumah-rumah jemaat dan mendoakan mereka. Tak lupa kami membantu segala aktifitas di pastori gereja, seperti memasak, membersihkan rumah dan ruang gereja.

Pada saat ibadah Jumat Agung, kami membagikan kebenaran Firman Tuhan tentang kasih kepada sesama karena Yesus sudah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Tuhan melawat jemaat yang hadir dan respon jemaat pun sungguh luar biasa. Ketika ibadah Paskah pada hari Minggu, kami membagikan kebenaran tentang kasih yang membawa kita pada kemenangan atas masa lalu, permasalahan, kekuatiran dan pergumulan hidup.

Secara garis besar kebutuhan jemaat di Sawahan adalah kebangunan rohani dan peneguhan-peneguhan atas pergumulan hidup mereka. Puji Tuhan bahwa jemaat di Sawahan mendapatkan peneguhan-peneguhan dari Tuhan melalui pelayanan kami.

Adapun tantangan yang kami hadapi selama mission trip ke Sawahan, Nganjuk adalah letak geografis yang cukup menantang serta jarak rumah jemaat yang cukup berjauhan ditambah lagi keterbatasan waktu, sehingga kami merasa bahwa pelayanan kunjungan kami ke rumah-rumah jemaat kurang maksimal. Tapi kami bersyukur beroleh kesempatan dari Tuhan untuk berbagi hidup dengan sesama tubuh Kristus di Sawahan, Nganjuk. (Christofel Angelo, PKS Youth)


Setelah mengantarkan tim pertama ke Desa Sawahan, kami berangkat dengan mobil COLT sewaan menuju Dusun Bomo. Keterangan yang kami dengar bahwa jarak dari Sawahan ke Bomo hanya 5 km saja, tetapi kenyataannya itu adalah 5 km terpanjang kami, karena kondisi jalan yang kami tempuh cukup rusak parah  dan naik turun berkelok-kelok. Sesampainya di Bomo, kami disambut oleh Bapak Gembala Freddy dan istrinya, Ibu Martha. Setelah berkenalan, kami menyempatkan diri untuk beristirahat, melakukan doa keliling, lalu bersiap melayani ibadah Jumat Agung pada sore harinya. Saat kami di sana, gedung gereja sedang dalam tahap pembangunan gedung pastori. Para jemaat yang pria membantu di sana, sehingga kami menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan mereka selama masa istirahat kami. Beberapa dari kami (yang pria) juga sempat membantu mengangkat beberapa bahan material bangunan.

Di gereja Bomo, kami melayani ibadah Jumat Agung dan ibadah Paskah. Sekalipun jumlah jemaat di gereja ini hanya ± 20 orang dan mereka tergolong keluarga petani yang pra sejahtera, namun dalam keterbatasannya mereka memiliki antusiasme yang tinggi untuk datang beribadah. Mereka datang setengah jam sebelum ibadah dimulai dan sangat ekspresif ketika puji-pujian dinaikkan serta responsif ketika Firman Tuhan kami bagikan. Kuasa Tuhan melawat setiap ibadah yang kami layani karena para jemaatnya memang sangat haus dan rendah hati untuk dipulihkan serta dikuatkan. Selain melayani di ibadah, kami juga mengunjungi rumah para jemaat dengan berjalan kaki ke sana. Kami sangat menikmati perjalanan kami dan terlebih lagi ketika kami sampai di rumah-rumah jemaat. Mereka sangat bahagia ketika kami mengunjungi mereka dan di sana kami mendengarkan cerita-certa mengenai hidup mereka. Kami tahu bahwa tidaklah mudah menjadi pengikut Yesus di sana. Mereka adalah minoritas dan mereka kerapkali dijauhi lingkungan mereka. Tetapi, situasi ini tidak menyurutkan iman mereka kepada Yesus. Mereka berkata bahwa sekalipun menderita maupun miskin, tetapi Tuhan Yesus yang akan membela dan memelihara mereka. Luar biasa iman mereka.

Pengalaman paling menarik di sana adalah ketika secara tiba-tiba kami diundang untuk melayani di dusun Bareng pada hari Sabtu malam. Bapak Freddy yang sejatinya diundang, menyerahkan pelayanan itu pada kami. Berkat kasih karunia Tuhan Yesus, kami pun berangkat ke sana untuk melayani. Di sinilah pengalaman menariknya! Perjalanan dari Bomo ke Bareng sangatlah jauh dan melewati jalan yang lebih curam dan rusak. Belum cukup, kondisi waktu itu hujan deras dan gelap (tidak ada penerangan sama sekali di jalan). Namun anehnya, tidak ada sedikit ketakutan pun yang kami rasakan. Entah mengapa, di tengah situasi mencekam itu, hati kami merasa tenang. Kami pun sampai di tempat dengan selamat dan antusias melayani di sana.

Kami sungguh sangat puas dengan perjalanan mission trip kami kali ini. Bukan karena pelayanan kami, tetapi karena kami merasakan sendiri kuasa Tuhan bekerja lewat pelayanan kami dan lewat kesaksian jemaat di sana. Bukan hanya kami yang memberkati mereka, namun mereka juga memberkati kami dengan rasa cinta mereka kepada Tuhan Yesus. (Johan Alvin Khosuma/Komsel Debby-Youth)


Saat mission trip, saya belajar untuk melayani, saling berbagi, saling menolong, dan peduli terhadap orang lain. Di sana saya juga belajar untuk mandiri. Yang terutama, di tempat mission trip saya belajar seperti murid-nurid Yesus untuk berani memberitakan Injil dan mengajak jemaat di sana untuk tetap setia menjadi murid Kristus. (Lucy, Komsel Debora)

Mission trip yang luar biasa. Saya diajar dan diteguhkan bagaimana penyertaan Tuhan yang tidak pernah mengecewakan, mulai dari persiapan, keberangkatan, hingga kepulangan Tuhan menyediakan segala yang kami perlukan tanpa harus memikirkan dan mengkuatirkannya. Apapun yang kita perbuat demi nama-Nya, Ia akan buat itu berhasil. Saat tidak ada pemain musik, Tuhan tiba-tiba mengembalikan feel bermain gitar saya, sehingga saya bisa bermain gitar. Ketika saya diberi kesempatan membagikan Firman, Tuhan melawat setiap jemaat yang mendengar. (Christofel Angelo, PKS Youth)

Melalui mission trip ini saya banyak belajar untuk mengandalkan Tuhan, sebab keterbatasan waktu dan bahasa yang ada. Saya berkesempatan membagikan Firman Tuhan di ibadah Paskah. Sebelum berangkat mission trip, saya sudah menyiapkan khotbah, tetapi berkali-kali mengalami revisi. Pada hari H, barulah Tuhan memberi saya hikmat untuk menyusunnya. Saya sangat diberkati oleh tim saya. Setiap kami bekerja sangat baik dan belajar saling lemah lembut dan rendah hati untuk menerima serta melakukan tanggung jawab yang diberikan. (Debora RA, PKS Youth)

Semua harapan saya sebelum mengikuti mission trip terpenuhi. Mengalami kuasa Tuhan, keluar dari zona nyaman, melayani jiwa-jiwa dan mengembangkan kapasitas. Saya sangat diberkati dengan kesaksian hidup para jemaat dan Bapak Pdt. Freddy, Ibu Martha istrinya serta anaknya Joy di Bomo. Semangat saya dalam melayani Tuhan semakin disegarkan dan diperbaharui. Salah satu pengalaman paling berharga dalam hidup saya. (Alvin, Komsel Debora)

Setelah ikut mission trip, semangat saya menjadi lebih menyala-nyala lagi dalam Tuhan. Awalnya semangat untuk melayani dan ibadah saya mulai menurun, seakan-akan jenuh dan melakukan segalanya hanya sebatas tanggung jawab serta rutinitas. Oleh karena itu, mission trip ini menjadi momentum yang membakar kembali semangat dan kerinduan saya untuk melayani Tuhan lebih lagi. Selain itu mission trip ini juga sebagai kesempatan untuk memperbesar kapasitas saya di dalam melayani Tuhan. (Rianti Joanita, Komsel Christofel)

Selama mengikuti mission trip di Dusun Bomo, saya belajar tentang disiplin waktu dari jemaat di sana. Mereka semua sudah hadir paling sedikit setengah jam sebelum ibadah dimulai, padahal tempat tinggal mereka cukup jauh dan mereka harus berjalan kaki untuk ke gereja. Bahkan dalam kondisi cuaca yang buruk sekalipun, mereka tetap hadir di gereja. Antar jemaat juga terlihat kompak. Hanya saja, selain bapak gembala dan istrinya, masih belum ada orang lain yang bisa membantu mereka dalam hal pemahaman Alkitab, sehingga banyak dari mereka yang belum bisa menggali Firman Tuhan. Setahu saya di sana juga belum ada pembinaan rohani secara rutin. (Ika, Komsel Oscar)

Menyenangkan sekali  bisa melayani saudara seiman di sana, saling berbagi pengalaman mengenal Yesus dan saling menguatkan. Saya dibuat kagum akan kehidupan jemaat (seperti jemaat mula-mula yang menjadi kaya dalam kekurangan masing-masing). Saya juga punya pengalaman naik bis Surabaya-Nganjuk dan di situ mendapatkan definisi baru mengenai kata "longgar" dalam bis dari kernet bis. (Satrio, Komsel Debora)

Pada awalnya saya sempat ragu untuk mengikuti mission trip karena ada beberapa teman yang mendadak tidak ikut, tetapi Tuhan kemudian ingatkan saya mengenai integritas. Di sana saya belajar banyak mengenai kehidupan yang sederhana dan apa adanya. Mereka tetap mempersembahkan hidup yang terbaik bagi Tuhan dengan keterbatasan yang mereka miliki. Awesome mission trip! (Felix, Komsel Debora)

Mission trip kemarin merupakan pengalaman yang luar biasa dan sesuatu yang tak terlupakan. Di sana saya banyak belajar melayani, mendoakan, dan mendengarkan setiap permasalahan yang dihadapi masing-masing orang serta benar-benar belajar untuk terus peka terhadap apa yang dikatakan Tuhan. (Lisa, Komsel Christofel)

Perjalanan yang sebenarnya cukup melelahkan, tetapi ternyata tidak membuat saya merasa capek, karena saya merasakan atmosfir kesetiaan jemaat di Bomo terhadap Tuhan sungguh luar biasa. Keadaan serba minim dan kekurangan serta perjalanan ke gereja yang jauh dari tempat tinggal mereka tidak menghalangi para jemaat untuk rasa cinta dan antusias kepada Tuhan Yesus. Saya sangat diberkati dan merasa bersyukur bisa melayani di sana. Mission trip membuat saya lebih berapi-api di dalam Tuhan. (Agus, Komsel Christofel)

Pasar Murah 2011, seru oi!

Pasar Murah GBI Kristus Pencipta Youth
15 Februari 2011

Pengalaman Di Merapi


Dengan keinginan dan adanya kesempatan, saya berangkat menuju Boyolali bersama dengan tim untuk menjadi relawan di pengungsian. Saya secara pribadi pada waktu itu masih belum memiliki rencana apa yang harus saya lakukan. Yang pasti, intinya sih satu, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu teman-teman pengungsi di sana. Sekitar pukul 1 siang, kami sampai di wilayah Jawa Tengah dan sudah disuguhi dengan pemandangan gunung Merapi yang sedang ramainya dibicarakan. Pemandangan itu sejenak membuat saya takjub, sekaligus ngeri juga. tapi tidak berselang lama, saya lebih memikirkan bagaimana dengan pengungsi2nya. Sekitar pukul 3 sore, kami sampai di pos sementara kami. Selagi menunggu koordinator di wilayah salatiga, kami pun istirahat. Pukul setengah 5 sore, kami berangkat menuju posko yang akan kami tinggali. Tepat pukul 8 malam kami sampai di posko kami. Dan disini dimulainya petualangan saya. Malam itu saya hanya mencoba melihat situasi dan menjalin hubungan dengan relawan yang lain. Ada relawan yang dari salatiga, ada juga yang dari Jakarta. Hari pertama hanya itu saja yang saya lakukan.

Hari kedua, selagi relawan dan tim yang fokus ke anak-anak kecil disana, saya mulai pergi mengunjungi pengungsi yang ada disana, mulai mengobrol sana-sini, dan bercanda. Lewat obrolan-obrolan ringan, hingga pada akhirnya mulai serius. Dan seperti yang dikatakan oleh dosen saya, mereka butuh didengar keluh kesahnya, istilahnya curhat…dan saya pun melakukannya, dan memang sangat manjur. Setiap pengungsi yang saya ajak ngobrol selalu mengutarakan isi hatinya, ketakutannya, dan saya benar-benar menyediakan hati dan telinga saya untuk mendengar mereka. Saya paham bahwa saya tidak ikut mengalami kejadian yang mengerikan yang telah dirasakan mereka, oleh sebab itu saya datang kepada mereka dengan tidak dengan sok membawa perubahan ataupun solusi. Untuk ukuran dan kondisi saya disana, saya hanya mampu mendengar curhat mereka, tapi saya sendiri paham, bahwa saya harus melakukan sesuatu untuk kebaikan mereka. Jadi, yang saya lakukan adalah ketika keluh kesah mereka dilontarkan, kesedihan mereka diluapkan, saya akan berusaha memahami dan lebih mengajak mereka untuk tidak melihat kebelakang terus-menerus. Saya berusaha mengajak mereka untuk melihat kedepan, apa yang akan mereka lakukan kedepan, harapan mereka kedepan, keinginan mereka kedepan. Saya ingin mereka mulai memikirkan hidup mereka kedepannya, ketimbang selalu memikirkan kejadian yang sudah-sudah tanpa mulai bergerak untuk memperbaikinya.

Hari ketiga kami di pengungsian, tepatnya hari Senin, dari pihak koordinator posko disana memutuskan untuk tidak lagi membuka posko disana karena hampir semua pengungsi yang ada disana memilih untuk mulai kembali di desa mereka. Dari total pengungsi yang awalnya 600 menjadi sekitar kurang dari 200 pada hari senin, dan jumlah anak-anak juga sedikit sekali. Saya dan tim mulai memikirkan, apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Apakah sudah cukup waktu kami disini. Relawan yang dari Jakarta pun harus kembali ke Jakarta, jadi kondisi kami pada waktu itu cukup bingung juga. akhirnya kami menunggu pihak koordinator posko, dan setelah bertemu, kami diberikan beberapa pilihan. Karena posko awal tempat kami tinggal sudah ditarik, kami bisa kembali ke Surabaya, atau masih ingin tinggal di salatiga untuk meninjau desa-desa didekat Merapi untuk melihat situasi disana, dan melihat kebutuhan-kebutuhan apa saja yang penduduk tersebut perlukan. Dan kami memilih untuk tetap tinggal.

Hari selasa, saya dan tim beserta koordinator posko meluai berangkat menuju sebuah desa di kilometer 6 dari puncak gunung Merapi, tepatnya di desa Rogobelah. Dan sebelum itu, kami pergi di posko pengungsian yang lain untuk mengajak salah seorang pengungsi yang ada disana yang bertempat tinggal di desa tersebut, dan terpilihlah ketua RT yang akan pergi bersama-sama kami. Karena mobil penuh, saya pun harus duduk di kursi belakang bersama-sama dengan ketua RT. Di awal perjalanan kami, saya sempat berdoa dan bercanda dalam hati. Doa saya “Tuhan, jangan Kau biarkan paru-paruku terbakar karena kesalahan orang ini Tuhan…”. Tepat saja, di dalam mobil, pak RT malah merokok..untung saja tidak lama setelah saya berdoa, koordinator lapangan meminta pak RT untuk mematikan rokoknya. Thanks God…


Sampai di desa Rogobelah, saya sudah disuguhi pemandangan yang hebat. Semua serba abu-abu. Saya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa waktu itu. Hanya takjub dengan kondisi disana. Setelah melihat-lihat pemandangan dan kondisi disana, saya mulai mencari anggota tim saya yang lain. Saya sudah tertinggal dari rekan-rekan yang lain karena terlalu asik dengan pemandangannya. Akhirnya saya ketemu juga dengan anggota tim saya yang sedang mengobrol didepan pintu rumah seorang warga disana yang kebetulan sebelumnya juga mengungsi di tempat pengungsian yang sama dengan kami. Akhirnya saya pun ikut mengobrol disana, dan kami diajak masuk dalam rumahnya. Tapi entah bagaimana caranya, rekan saya ini sudah keluar dari rumah, sedangkan saya sendiri masih didalam rumah, dan saya sebut dengan istilah terjebak didalam rumah karena akhirnya saya harus tetap didalam rumah tersebut dan ditemani satu keluarga yang ada disana. Saya pun tidak bisa pergi karena sudah terlanjur disuguhi seikat pisang dan segelas teh tawar, yang menurut saya lebih tawar dari teh tawar, plus debu dipinggir gelasnya. Ini benar-benar pengalaman yang istimewa buat saya pribadi, karena saya benar-benar menyerahkan semua dalam tangan Tuhan…ciieee…..hahaha…ya bagimana tidak, di keluarga itu hanya bisa bahasa kromo inggil yang halus banget. Jadi saya harus benar-benar menjaga omongan. Dan apalagi suguhan-suguhannya ya sedikit banyak pernah jadi korban abu juga, hahahaha…..tapi saya tidak terlalu terpengaruh sih dengan kondisi itu. Saya bersyukur bahwa waktu itu yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa masuk di obrolan-obrolan itu dan mengakhirinya dengan mengajak mereka untuk melihat dan memikirkan kedepannya. Itu saja. Dan saya rasa, saya bisa dan berhasil melakukannya. Setelah hampir setengah jam mengobrol, saya putuskan untuk cepat2 menghabiskan makanan yang sudah dihidangkan buat saya, dan saya pamit untuk pulang. Untung saja waktu sajian habis, obrolan juga pas habis. Yaaaaaah….waktu yang pas untuk berpamitan, hehehehe….saya berpamitan dengan keluarga disana, dan saya segera keluar dari rumah karena takut ditinggal oleh tim. Waktu keluar rumah, untung saja mobil tim sedang berjalan didekat rumah itu dan akan pulang…..saya benar-benar bersyukur…hahahaha…..

terlalu banyak yang bisa saya ceritakan disini. Intinya, apa yang sudah saya lakukan disana benar-benar luar biasa, dan saya rasa itu juga bisa dilakukan oleh orang lain. Jadi kenapa anda tidak memulainya??

Doa Kita Membuat Sesuatu Terjadi


Awal di mana saya mendapat hikmat untuk mengusulkan proyek doa keliling pada tempat-tempat hiburan malam di daerah Surabaya Pusat adalah karena saya merasa kesulitan untuk menceritakan Yesus kepada teman-teman saya. Topik kerohanian (apalagi topic mengenai Yesus) seakan-akan menjadi topik “haram” buat mereka. Saya seperti menemui tembok ketika akan mengajak mereka ke gereja maupun komsel.

Satu ketika di pertemuan Prajurit Doa (PraDo), Ibu Ruth membahas tentang pemetaan rohani dalam doa keliling, yakni dimana kita harus tahu dahulu situasi dan ciri khas daerah yang hendak kita doakan. Dari situlah kita akan mengetahui roh-roh jahat apa yang sedang menguasai daerah tersebut. Dengan mengetahui kondisi alam roh tempat-tempat tersebut, kita akan lebih fokus untuk memerangi dan memenangkan daerah tersebut untuk Tuhan. Di sinilah saya mendapat hikmat bahwa ‘tembok’ yang menghalangi teman-teman saya untuk dapat melihat dan mengerti kebenaran adalah hal-hal duniawi yang telah membelenggu pikiran mereka. 2 Korintus 4:4 mengatakan bahwa orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

Singkat cerita, doa keliling komsel-komsel Youth dengan sasaran tempat-tempat hiburan malam di Surabaya Pusat pun akhirnya terlaksana dan telah menyelesaikan putaran pertama dimana setiap komsel telah berdoa untuk kota secara bergiliran setiap minggunya. Saya secara pribadi yang mengikuti setiap doa keliling dengan teman-teman berbagai komsel kemudian melihat Tuhan melakukan berbagai terobosan pada VIP List saya.

VIP List saya ini sebelumnya tinggal di Surabaya kemudian pindah ke Jakarta. Hal ini membuat komunikasi kami ‘semakin mustahil’ karena hanya sebatas lewat chatting di internet. Namun, satu waktu dia mulai membuka diri dengan menceritakan kehidupannya yang hampa. Dari situlah saya bisa menceritakan Yesus dan dia mau didoakan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat! Puji Tuhan! Satu jiwa diselamatkan membuat seisi surga berpesta karena satu jiwa berharga di mata Tuhan. Tidak berakhir di situ, salah satu teman kuliah saya pada satu hari menyapa melalui chatting dan tiba-tiba menceritakan kalau dia menjadi kuatir dengan berbagai bencana alam yang terjadi (waktu itu sedang terjadi bencana Merapi) dan merasa hidupnya menjadi tidak aman. Dari situ, saya langsung menelpon dan mendoakan dia untuk hidup sungguh-sungguh bagi Yesus karena hanya di dalam DIA kita merasa aman. Teman kuliah sayapun berkomitmen untuk tidak main-main lagi dengan hidupnya. Dia mau hidup untuk Yesus. 
 
Yang terbaru, terdengar kabar bahwa salah satu tempat hiburan malam di Surabaya Pusat terbakar. Saya pribadi tidak tahu bagaimana cara kerja Tuhan bekerja dalam doa-doa keliling kita, namun marilah kita percaya bahwa Tuhan kita itu Maha Dahsyat. Surabaya Pusat bahkan seluruh kota ini berada dalam kedaulatanNya. Mari kita sebagai anak-anakNya memastikan hal itu terjadi. Ayo terus semangat berdoa keliling. Our Prayer Makes Something Happen…Doa kita membuat sesuatu terjadi.
kesaksian oleh : Alvin (Youth)