Saat Teduh 28 September - 4 Oktober 2015

Ayat Hafalan:
Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.
(Amsal 25:28)
 
Senin, 28 September 2015
Jenis Makanan Baru
Yohanes 4:1-42
Memahami perkataan dalam pengajaran Yesus memang gampang-gampang susah. Ada kalanya kita dapat begitu mudah memahami perkataan atau pengajaran-Nya, tetapi - pada kesempatan lain - kita akan dibuat mengernyitkan dahi hanya untuk memahami satu atau dua kalimat yang Dia sampaikan. Salah satunya ada dalam nats hari ini.

Untuk dapat memahami konteks renungan hari ini, kita perlu mencermati beberapa ayat kunci (ay. 8, 31-34). Ketika Yesus bercakap-cakap dengan wanita Samaria, murid-murid sedang ke luar kota. Ketika mereka kembali sambil membawa makanan, murid-murid meminta agar Ia makan. "Pada-Ku ada makanan yang kamu tidak kenal," jawab Yesus. Jawaban yang mengejutkan sehingga para murid menyangka ada yang memberi Yesus makan selagi mereka pergi (ay. 33). Yesus lalu menjelaskan jenis "makanan" yang dimaksudkan-Nya, yakni berkaitan dengan melakukan kehendak dan menyelesaikan pekerjaan Bapa. Hari itu, Yesus memperkenalkan jenis "makanan" yang selama ini belum dikenal oleh para murid-Nya.

Makanan berkaitan dengan rasa kenyang dan puas. Jika dikaitkan dengan perkataan Yesus di atas, berarti seseorang yang melakukan kehendak dan menyelesaikan pekerjaan Tuhan dapat merasa kenyang dan puas sekalipun secara fisik ia belum makan. Apakah kita pernah merasakan jenis "makanan" ini? Jika belum, kita bisa memulainya sesegera mungkin. Belajarlah melakukan kehendak-Nya dan menyelesaikan pekerjaan yang sedang Dia tugaskan kepada kita. Lakukanlah semuanya karena kita mengasihi Tuhan.

Selasa, 29 September 2015
Menyentuh Yesus
Matius 9:18-26
Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat bagi orang yang didiagnosia sakit pendarahan. Pengobatan? Segala upaya telah dilakukan oleh wanita ini. Sampai seluruh hartanya terkuras. Sia-sia belaka, tak satu pun upaya berhasil menyembuhkan penyakitnya. Kita mungkin bisa membayangkan perasaan yang kemudian berkembang dalam dirinya. Merasa hidup tidak berguna lagi, ragu-ragu, dan ketakutan—hal-hal itu bisa jadi memenuhi pikirannya.

Namun, saya sungguh mengagumi hasrat wanita itu untuk sembuh dan juga keberaniannya untuk menerobos segala ketidakmungkinan. Ya, hari itu ia melihat Yesus berjalan di tengah kerumunan orang yang begitu banyak. Selama ini, ia hanya mendengar nama Yesus - Sang Penyembuh itu - dari kata orang. Nyatanya, hal itu sudah cukup membuatnya beriman bahwa asalkan ia menjamah jubah-Nya, ia pasti sembuh! Iman ini menggerakkan wanita itu untuk menerobos kerumunan orang demi menyentuh jubah Yesus. Dan, ia pun sembuh sesuai dengan imannya.

Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm. 10:17). Di sisi lain, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak. 2:26). Firman Tuhan yang setiap hari kita baca dan dengar kiranya terus bertumbuh dan menghasilkan iman dan pengenalan yang semakin dalam akan Tuhan. Ketika situasi hidup kita baik, apakah kita tetap mengakui bahwa tanpa Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa? Sebaliknya, saat situasi hidup tidak baik, apakah kita tetap percaya kepada Tuhan, yang akan menunjukkan rencana-Nya yang indah?

Rabu, 30 September 2015
Niat Jahat dalam Doa
Mazmur 66:1-20
Apakah Allah mendengarkan setiap doa yang dinaikkan umat manusia? Biasanya orang akan cepat menjawab "Ya". Namun, hari ini kita akan merenungkan kemungkinan bahwa Tuhan ternyata tidak mau mendengarkan doa kita. Setidaknya, itulah yang diyakini oleh pemazmur dalam bacaan hari ini.

Pemazmur memulai rangkaian mazmurnya dengan ajakan untuk memuji, meninggikan, dan memuliakan Tuhan karena kedahsyatan perbuatan-Nya. Ia kemudian melanjutkan dengan pengalaman pribadinya (ay. 9-15)—pengalaman yang melahirkan pemahaman mengenai Allah, yang menginginkan kemurnian dalam hati umat-Nya. Seandainya ada niat jahat dalam hati, tentu Tuhan tidak mau mendengar (ay. 18). Wow! Mungkin kita bertanya-tanya, "Mungkinkah menaikkan doa dengan kondisi ada niat jahat dalam hati?" Jawabannya: Mungkin sekali! Kondisi hati yang rapuh, mudah terkoyak, dan tak jarang memendam sakit hati, iri hati, kebencian, dan kepahitan yang berakar dapat membuat kita menaikkan doa dengan niat jahat di dalamnya.

Niat jahat dalam hati sering kali tidak kita sadari. Hanya Tuhanlah, lewat karya Roh Kudus, yang membantu kita dalam kelemahan kita dan berdoa untuk kita kepada Allah (Rm. 8:26). Ketika kita mempersilahkan Roh Kudus bekerja dalam hati kita, kita akan dapat mengetahui dengan segera ketika ada niat jahat dalam hati, yang perlu segera dibersihkan. Jadi, masih adakah niat jahat dalam hati kita? Bereskan dengan segera supaya doa kita tidak terganggu!
Kamis, 1 Oktober 2015
Menyelidiki Kebenaran
Kisah Para Rasul 17:10-15
Ada orang yang cenderung malas, menerima begitu saja khotbah dari mimbar tanpa pernah menyelidiki Kitab Suci secara pribadi. Sebaliknya, ada pula pemimpin gereja yang malah berusaha mematikan sikap kritis: "Sudah, percaya saja, dengar dan lakukan. Ketaatan yang tertunda itu sama saja dengan ketidaktaatan." Keduanya sama-sama ekstrem dan tidak sehat.

Bagaimana sepatutnya kita merespons pemberitaan Firman? Kasus di Berea merupakan sebuah contoh menarik. Pelayanan Paulus saat itu sudah lumayan termasyhur, dan orang Berea menyambut pelayanannya. Mereka menerima pemberitaan Paulus dengan segala kerelaan hati—tetapi, apakah mereka menelannya begitu saja? Tidak! Mereka menyelidiki Kitab Suci untuk melihat apakah pengajaran Paulus selaras dengan ajaran kebenaran. Apakah Paulus jengkel, menganggap mereka lancang, dan mencela mereka? Justru sebaliknya! Di ayat 11, mereka dipuji sebagai "lebih terbuka hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika" (Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Tuhan Yesus berjanji bahwa Roh Kudus menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Marilah kita mengandalkan pertolongan-Nya dalam memahami Firman-Nya, baik ketika mendalami Kitab Suci secara pribadi maupun ketika menyimak khotbah atau pengajaran seseorang. Selanjutnya, mintalah Roh Kudus agar memberikan hikmat untuk merespons Firman tersebut dalam keseharian kita. Dengan demikian, kita akan sungguh-sungguh bertumbuh dalam kebenaran dan pengenalan akan Tuhan.

Jumat, 2 Oktober 2015
Kualitas Hidup Hamba
Lukas 12:35-48
Selain setia dan tekun, kualitas hidup lain yang harus dimiliki hamba adalah kerendahan hati. Hamba melakukan tugasnya bukan untuk mempromosikan diri, mencari popularitas atau pujian. "Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Lukas 17:10). Kristus telah memberikan teladan bagaimana Ia tidak mempertahankan reputasi-Nya, melainkan mengosongkan diri untuk melayani manusia (baca Filipi 2:6-8). Tidak perlu sakit hati dan kecewa jika pelayanan kita tidak dianggap dan tidak dihargai manusia, sebab Tuhan tidak pernah melewatkan pelayanan sekecil apa pun yang kita lakukan untuk-Nya, semua diperhitungkan-Nya.

Kualitas hidup yang juga diharapkan si tuan dari hambanya adalah senantiasa menantikan kepulangan tuannya dengan siap sedia dan berjaga-jaga. "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Pinggang yang berikat adalah tanda kesiapan bekerja dan melayani; pelita yang menyala menunjukkan semangat yang tidak pernah padam meski tuannya pulang larut atau bahkan dini hari. Yesus mengilustrasikan tuan itu pulang dari pesta perkawinan yang - menurut tradisi Yahudi - berlangsung pada malam hari. Malam hari menegaskan waktu kedatangan Tuhan yang tidak diduga-duga (umumnya, banyak orang tertidur pulas dan lengah pada malam hari), sehingga banyak hamba tidak lagi berjaga-jaga menantikan kedatangan tuannya. Hal itu membuat mereka tidak lagi bersungguh-sungguh bekerja sehingga berubah menjadi hamba yang jahat.

Hari-hari ini adalah hari menjelang kedatangan Tuhan, sudahkah kita siap sedia menyongsong kedatangan-Nya? Karena "...Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Lukas 12:40). Tuhan pasti segera datang! Tetaplah setia menantikan kedatangan-Nya dan terus mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada kita dengan penuh tanggung jawab.

Sabtu, 3 Oktober 2015
Hati yang Tergerak: Mendatangkan Kelimpahan
Keluaran 36:1-7
Keluaran 35:29 mencatat demikian: "Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan-- mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN." Orang-orang Israel membawa persembahan dalam keadaan bebas dari tekanan atau paksaan. Mereka memberi persembahan dengan sukarela sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.

Persembahan itulah yang menyenangkan hati Tuhan sehingga mujizat pun terjadi, berkat terus mengalir sehingga orang-orang yang mengerjakan pembangunan Kemah Suci berkata, "Rakyat membawa lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan." (ayat 5). Sampai-sampai Musa harus membuat pengumuman: "Tidak usah lagi ada orang laki-laki atau perempuan yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus. Demikianlah rakyat itu dicegah membawa persembahan lagi. Sebab bahan yang diperlukan mereka telah cukup untuk melakukan segala pekerjaan itu, bahkan berlebih." (ayat 6-7).

Di zaman Perjanjian Baru, persembahan sukarela juga ditunjukkan oleh Zakheus: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin..." (Lukas 19:8). Persembahan yang tanpa direncanakan, tapi digerakkan oleh Roh Kudus. Demikian juga jemaat di Filipi yang memberikan persembahan secara sukarela untuk mendukung pelayanan Paulus: "Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah." (Filipi 4:18). Persembahan sukarela hanya terjadi karena gerakan atau dorongan Roh Kudus atas seseorang. Sukarela adalah dasar persembahan yang diberkati Tuhan!

Minggu, 4 Oktober 2015
Berisiko Tetapi Mulia
Filipi 1:27-30
Menjadi relawan bukanlah tidak berisiko. Terlebih di kala bencana atau di tengah kerusuhan. Niat mulia hendak membantu sesama harus diikuti dengan keberanian dan keikhlasan. Itulah yang dialami oleh Olesya Zhukovska ketika menolong korban kerusuhan demonstrasi di Kiev, Ukrania, pada Februari 2014 lalu. Sementara menjadi relawan, ia sendiri malah tertembak oleh penembak misterius. Beruntung, nyawanya masih terselamatkan.

Dengan penuh kesabaran dan semangat tinggi, Rasul Paulus memberitakan Injil keselamatan Kristus. Ia berjalan dari kota ke kota, dari satu negara pindah ke negara lain. Menempuh perjalanan yang berbahaya dan sulit. Terkadang Paulus harus berjalan hingga ratusan mil, di waktu lain ia juga menyeberangi lautan. Menghadapi binatang buas, pula gelombang laut yang ganas. Tak jarang, ia harus menghadapi fitnah keji yang berujung pada aniaya dan hukuman penjara dari para penghambat Injil Kristus (2 Kor. 11:23-27). Namun, kesulitan demi kesulitan itu tak menyurutkan semangatnya untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.

Paulus mengakui bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari Kristus Yesus yang sudah menyelamatkan hidupnya (2 Kor. 4:7). Maka, adalah suatu kehormatan jika Kristus berkenan memakainya menjadi saksi Kristus, agar banyak jiwa dapat memperoleh keselamatan dari Kristus.

Bagaimana respons Anda dan saya setelah ditebus Kristus? Adakah kita bersedia bekerja dengan rela demi menjadi saksi-Nya?